Pasar real estat global memasuki fase pemulihan pada 2026 seiring inflasi yang mereda dan suku bunga yang perlahan menurun. Tahun ini diperkirakan menjadi periode yang lebih mendukung bagi modal properti, dengan proyeksi pertumbuhan yang moderat namun tangguh, keterjangkauan yang membaik, serta pemulihan volume transaksi. Sejumlah lembaga menilai 2026 sebagai titik balik bagi valuasi dan aktivitas transaksi properti di banyak negara.
Pasokan Konstruksi Tetap Terbatas
Di sisi lain, pasokan bangunan baru justru menurun di sebagian besar sektor properti komersial di Amerika Utara dan Eropa. Ketidakpastian ekonomi yang dipadukan dengan tingginya biaya konstruksi dan pembiayaan terus menekan dimulainya proyek baru. Di sektor perkantoran Amerika Serikat, penyelesaian proyek bahkan diperkirakan anjlok hingga 75 persen pada 2026, mencerminkan betapa hati-hatinya pengembang dalam memulai proyek.
Biaya konstruksi diperkirakan masih naik hingga 6 persen di beberapa wilayah seperti Singapura dan Australia. Pembiayaan menjadi titik tekan utama, dengan suku bunga tinggi di negara maju memukul kelayakan proyek. Investor pun makin selektif, mengarahkan modal ke sektor dengan permintaan struktural jangka panjang seperti logistik, pusat data, serta properti terkait kesehatan dan pendidikan yang permintaannya lebih stabil.
Tren penting lain adalah meningkatnya minat terhadap retrofit dan reposisi aset yang sudah ada. Perbaikan berfokus energi terbukti memberi imbal hasil hingga 55 persen lebih tinggi bila dilakukan lebih awal dalam siklus hidup bangunan. Pendekatan ini sejalan dengan kesadaran keberlanjutan sekaligus efisiensi biaya, menjadikannya strategi yang makin populer di kalangan pemilik aset besar.
Bagi pasar berkembang termasuk Asia Tenggara, kondisi ini membuka peluang seiring permintaan rumah tangga yang relatif kuat. Negara-negara dengan kebijakan moneter dan permintaan domestik yang konstruktif berpotensi menarik aliran modal. Indonesia, dengan kebutuhan hunian yang besar, berada pada posisi yang menarik bila mampu menjaga stabilitas ekonomi dan iklim investasi yang sehat.
